Keutamaan Mendatangi Masjid

Keutamaan Mendatangi Masjid
(Keutamaan Mendatangi Masjid Secara Umum Baik Berjalan Kaki Maupun Berkendara)
 
Mendatangi dan berangkat menuju masjid adalah banyak keutamaan yang disebutkan oleh hadits-hadits nabawiah. Kami mencukupkan dengan hanya menyebutkan sebagian di antaranya:
 
Pertama :
 
”Barangsiapa yang berwudhu di rumahnya dan memperbaiki wudhunya kemudian dia mendatangi masjid, maka dia adalah orang yang berziarah kepada Allah, dan sudah kewajiban bagi yang diziarahi untuk memuliakan orang yang berziarah.”

Al-Mundziri berkata tentang hadits ini (1/130), ”Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabir dari Salman radhiyallahu’anhu dengan dua sanad, salah satunya jayyid. Al-Baihaqi meriwayatkan yang semakna dengannya secara mauquf dari sebagian sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dengan sanad yang shahih.”
 
Al-Haitsami berkata (2/31), ”Ath-Thabarani meriwayatkannya dalam Al-Kabir dan perawi salah satu dari kedua sanadnya adalah perawi Ash-Shahih.”
 
Saya berkata: Hadits ini mempunyai pendukung dari hadits Abdullah bin Mas’ud secara marfu’ dengan lafazh, ”Sesungguhnya rumah-rumah Allah di bumi adalah masjid-masjid, dan sesungguhnya wajib atas Allah untuk memuliakan orang yang berziarah.”
 
Al-Haitsami berkata (2/22), ”Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabir dan di dalam sanadnya adalah Abdullah bin Ya’qub Al-Kirmani, seorang rawi yang lemah.”
 
Saya berkata: Sanadnya di dalam Al-Kabir sebagai berikut: Al-Abbas bin Hamdan Al-Ashbahani menceritakan kepada kami (dia berkata): Abdullah bin Abi -demikian yang tertulis- Ya`qub Al-Kirmani (dia berkata): Abdullah bin Yazid Al-Muqri` mengabarkan kepada kami (dia berkata): Al-Mas’udi mengabarkan kepada kami dari Ibnu Ishaq dari Amr bin Maimun dan seterusnya.
 
Al-Abbas bin Hamdan ini adalah Al-Hanafi, Ath-Thabarani sangat sering meriwayatkan hadits darinya dan dia meriwayatkan satu haditsnya di dalam Al-Mu’jam Ash-Shaghir (hal. 121) karyanya. Saya tidak menemukan ulama yang menyebutkan biografinya, dan mungkin dia terdapat dalam Thabaqat Al-Ashbahaniyin karya Ibnu Hibban. Dan di antaranya adalah sebuah manuskrip dalam Perpustakaan Azh-Zhahiriah, maka silakan merujuk kepadanya. Semua perawi lainnya tsiqah kecuali Al-Kirmani, karena dia adalah rawi yang lemah sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Haitsami dan Adz-Dzahabi sebelumnya.
 
Kedua :
 
”Barangsiapa yang pergi atau berangkat ke masjid maka Allah akan mempersiapkan untuknya hidangan di dalam surga setiap kali dia pergi atau berangkat.”
 
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (2/117), Muslim (2/132) dan Ahmad (2/508-509) dari Yazid bin Harun -guru Ahmad dalam sanadnya- (dia berkata): Muhammad bin Mutharrif mengabarkan kepada kami dari Zaid bin Aslam dari Atha` bin Yasar dari Abu Hurairah secara marfu’.
 
Al-Hafizh berkata, ”Lahiriah hadits ini menunjukkan adanya pahala bagi siapa yang mendatangi masjid secara mutlak. Akan tetapi yang dimaksudkan di sini terkhusus bagi siapa yang mendatanginya untuk beribadah, dan ibadah terbesar adalah shalat, wallahu a’lam.”
 
Ketiga :
 
”Barangsiapa yang berangkat ke masjid jamaah, maka setiap langkahnya akan menghapuskan kejelekan dan setiap langkahnya akan dituliskan pahala, pergi dan pulangnya.”
 
Ini berasal dari hadits Abdullah bin Amr bin Al-Ash.
 
Diriwayatkan oleh Ahmad (2/172) dari jalan Ibnu Lahiah (dia berkata): Huyaiy bin Abdillah menceritakan kepada kami bahwa Abu Abdirrahman menceritakan kepadanya bahwa dia mendengar Abdullah bin Amr bin Al-Ash menceritakannya secara marfu’.
 
Ini adalah sanad yang hasan. Yang dikhawatirkan dari Ibnu Lahiah hanyalah kalau dia bersendirian karena hafalannya yang jelek, walaupun pada dasarnya dia sendiri adalah rawi yang tsiqah, dan di sini dia telah mendapat dukungan.
 
Al-Haitsami berkata (2/29) setelah dia membawakan hadits ini, ”Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thabarani dalam Al-Kabir, dan semua perawi Ath-Thabarani adalah perawi Ash-Shahih sementara perawi Ahmad, di antara mereka ada Ibnu Lahiah.”
 
Al-Munawi berkata (1/125), ”Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang hasan, serta Ath-Thabarani dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya.”
 
Kelihatannya Ibnu Hibban juga meriwayatkannya selain dari jalan Ibnu Lahiah, karena Ibnu Lahiah sendiri lemah menurut Ibnu Hibban.
 
Dia berkata tentangnya, ”Saya telah meneliti semua hadits-haditsnya dari riwayat orang-orang yang meriwayatkan darinya terdahulu dan yang belakangan, maka saya melihat adanya percampurbauran dalam riwayat orang-orang yang meriwayatkan darinya belakangan dan dari riwayat orang-rang yang terdahulu ada banyak riwayat yang tidak ada asalnya. Lalu saya kembali mengumpulkan jalan-jalannya, maka saya menemukan dia sering melakukan tadlis dari rawi-rawi yang lemah tapi menyandarkannya kepada rawi-rawi yang dianggap oleh Ibnu Lahiah sebagai rawi yang tsiqah, lalu dia menyandakan riwayat-riwayat palsu itu kepada mereka.”
 
Kemudian, kelihatannya Ath-Thabarani meriwayatkannya selain dari jalan Huyaiy bin Abdillah karena dia ini bukan termasuk perawi Ash-Shahih.
 
Sementara Al-Haitsami berkata tentang perawi haditsnya, ”Mereka semua adalah rawi yang shahih,” tanpa ada pengecualian.
 
Keempat :
 
”Barangsiapa yang berjalan di kegelapan malam menuju ke masjid maka dia akan berjumpa dengan Allah -Azza wa Jalla- dengan cahaya pada hari kiamat.”
 
Ini dibawakan oleh Al-Mundziri (1/129) dari hadits Abu Ad-Darda` secara marfu’.
 
Dia (Al-Mundziri) berkata, ”Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabir dengan sanad yang hasan dan juga Ibnu Hibban dalam Shahihnya. Lafazhnya adalah, ”Barangsiapa yang berjalan di kegelapan malam menuju ke masjid-masjid maka Allah akan memberikan kepadanya cahaya pada hari kiamat.”
 
Al-Haitsami berkata (2/30), ”Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabir dan semua perawinya tsiqah.”
 
Hadits ini mempunyai banyak pendukung yang semakna dengannya, yang dengannya hadits ini bisa naik ke derajat shahih. Di antaranya adalah:
 
Dari Abu Hurairah. Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Ausath dengan sanad yang hasan, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Mundziri dan Al-Haitsami mengikutinya.
 
[Diringkas dari Ats-Tsamar Al-Mustathab jilid 1 karya Asy-Syaikh Al-Albani pada bab hukum-hukum seputar masjid] 
Keutamaan Berjalan Kaki ke Masjid
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- bahwa beliau bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ أَعَدَّ اللهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ نُزُلاً كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ

“Barangsiapa menuju masjid pada waktu pagi hari atau sore hari maka Allah akan memberikan jamuan hidangan baginya di surga pada setiap pagi dan sore.” (HR. Al-Bukhari no. 148 dan Muslim no. 669)
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci dari rumahnya kemudian berjalan ke salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) untuk menunaikan salah satu dari kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan, maka kedua langkahnya salah satunya akan menghapus dosa dan langkah yang lainnya akan mengangkat derajat.” (HR. Muslim no. 1553)
 
Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَفِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ فَإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلْ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ وَلَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلَاةَ

“Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjama’ah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo’akannya selama dia masih berada di tempat shalatnya, ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia’. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 131 dan Muslim no. 649)
 
Dari Abu Musa katanya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَعْظَمَ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلَاةِ أَبْعَدُهُمْ إِلَيْهَا مَمْشًى فَأَبْعَدُهُمْ وَالَّذِي يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الْإِمَامِ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ الَّذِي يُصَلِّيهَا ثُمَّ يَنَامُ

“Manusia paling besar pahalanya dalam shalat adalah yang paling jauh perjalannya, lalu yang selanjutnya. Dan seseorang yang menunggu shalat hingga melakukannya bersama imam, lebih besar pahalanya daripada yang melakukannya (sendirian) kemudian tidur.” (HR. Muslim no. 662) 
 
Penjelasan ringkas : 
 
Di antara rahmat Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya yang beribadah, Allah tidak hanya memberikan pahala kepada mereka atas ibadahnya, akan tetapi Allah juga memberikan pahala pada semua perkara yang melengkapi dan menjadi wasilah dan sebab terjadinya ibadah tersebut, baik pelengkap tersebut berada sebelum ibadah itu maupun berada setelahnya.
 
Tatkala berjalan pulang balik masjid merupakan pelengkap dan wasilah ibadah di masjid, maka Allah Ta’ala juga memberikan pahala atas berjalannya sebagaimana Allah memberikan pahala atas semua ibadahnya di masjid. Bahkan pahala berjalan ke masjid sama pahalanya seperti ribath (berjaga di daerah perbatasan musuh). Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ, فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ

“Maukah kalian aku tunjukkan atas sesuatu yang dengannya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudhu pada keadaan yang dibenci (seperti pada keadaan yang sangat dingin, pent.), banyak berjalan ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat. Maka itulah ribath, itulah ribath.” (HR. Muslim no. 251)
 
Adapun langkah pulangnya dari masjid, maka Allah Ta’ala juga menetapkan pahala baginya. Dari Ubay bin Kaab radhiyallahu’anhu dia berkata: 
 
“Ada seorang dari golongan sahabat Anshar yang saya tidak mengetahui seseorang pun yang rumahnya lebih jauh letaknya dari rumah orang itu jikalau hendak ke masjid, tetapi ia tidak pernah terlambat oleh sesuatu shalat (yakni setiap shalat fardhu ia mesti mengikuti berjamaah, pent.). Lalu dikatakan kepadanya, “Alangkah baiknya jikalau engkau membeli seekor keledai yang dapat engkau naiki di waktu malam gelap gulita serta di waktu teriknya panas matahari.” Dia menjawab, “Saya tidak senang kalau rumahku itu ada di dekat masjid, sesungguhnya saya ingin kalau jalanku sewaktu pergi ke masjid dan sewaktu pulang dari masjid untuk kembali ke tempat keluargaku itu dicatat pahalanya untukku.” Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Allah telah mengumpulkan untukmu pahala kesemuanya itu (yakni waktu pergi dan pulangnya semuanya diberi pahala, pent.).” (HR. Muslim)
 
Melihat semua keutamaan di atas, maka hendaknya orang yang sanggup untuk berjalan kaki ke masjid, hendaknya dia tidak menggunakan kendaraan karena pahalanya tidaklah sama. Ini ditunjukkan oleh hadits Ubay bin Ka’ab di atas.
________
 

Amankah kosmetik kita????

MuslimahZone.com – Tak bisa dipungkiri bahwa tampil cantik dan memesona adalah sebuah tuntuan bagi kebanyakan wanita. Maka jangan heran jika banyak wanita yang rela merogoh kocek hingga berjutaan rupiah hanya karena sebuah kata cantik. Karena sejatinya tak ada wanita yang tak ingin dikatakan cantik. Keinginan ini justru mendorong berbagai produsen produk kecantikan yang dapat membuat perempuan cantik dalam sekejap. Sayangnya kebanyakan dari produsen produk kecantikan itu  lebih mementingkan sisi komersialitas daripada memperhatikan kesehatan konsumennya dan kosmetik yang mereka tawarkan sama sekali tidak sesuai dengan kaidah farmasetika yaitu aman, berkhasiat dan berkualitas. Bukan rahasia lagi jika di dalam berbagai produk kosmetik itu seperti lipstik, sampo, sabun, pewarna kuku dan penghapusnya, make up, parfum, deodorant, sunscreen, lotions, pasta gigi, obat kumur, lensa kontak warna, perwarna rambut, dan hair sprays, mulai dari harga yang paling murah sampai yang harganya sangat fantastis terkandung berbagai bahan berbahaya yang biasanya dicampur dengan produk kecantikan itu. Yang memang sangat tidak aman bagi kulit dan tubuh, apalagi jika penggunaannya berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, itu bisa mengakibatkan gangguan hormonal, kanker dan pernyakit-penyakit berbahaya dan kronis lainnya.

Maka dari itu bagi para wanita, berhati-hatilah dalam memilih produk-produk kosmetik. Tidak selamanya produk kosmetik yang sering bermunculan di iklan tv atau yang sering di jumpai di etalase toko itu baik. Dari berbagai kosmetik yang ada di pasaran ada yang sering menimbulkan efek samping dan juga ada yang jarang menimbulkan efek samping yang bersifat negatife. Namun jika kosmetik yang di gunakan telah memberikan efek negatife, maka bersegeralah berkonsultasi ke dokter. Cantik dalam sekejap tapi hanya mementingkan sisi kepuasan untuk mendapat pujian tanpa mementingkan dampaknya justru adalah perilaku wanita yang sebaiknya diubah. Justru karena prinsip ingin mendapat pujian itulah yang tak ayal membuat wanita melakukan berbagai cara untuk membuatnya terlihat lebih cantik termasuk penggunaan kosmetika yang berlebihan yang justru sangat berdampak pada kesehatan wajah dan tubuh.. Berikut manfaat sekaligus kelemahan beberapa bahan berbahaya dari bahan baku kosmetika.

1.      Hidroquinone

Hidroquinone termasuk golongan obat keras yang seharusnya digunakan dengan resep dokter. Zat yang biasa digunakan dalam proses cuci mencetak foto. Zat ini memiliki kemampuan menghambat pembentukan melanin (zat pigmen kulit)  sehingga biasa ditemukan pada kosmetika wajah pemutih kulit dan bahaya pemakaian obat keras ini tanpa resep dokter menyebabkan kulit menjadi merah, rasa terbakar, iritasi kulit, bercak-bercak hitam, kelainan pada ginjal, kanker darah dan kanker rahim.

2.      Asam Retinoat/ Tretroin / Retionic Acid

Kandungan zat ini dapat menyebabkan rasa terbakar, kulit kering, teratogenik dan cacat pada janin.

3.      Sodium Lauryl Sulfate (SLS) dan Ammonium Lauryl Sulfate (ALS)

SLS dan ALS sering digunakan sebagai campuran shampoo, pasta gigi, sabun pembersih wajah, dan sabun mandi. Penggunaan zat ini berbahaya karena bisa menyebabkan iritasi kulit dan bisa mengganggu kesehatan mata serta menyebabkan katarak.

4.      Propylene glycol

Zat ini terdapat pada deterjen, cream wetlook, foaming atau kondisioner. Penggunaan propylene glycol dapat menyebabkan kemerahan pada kulit, dermatitis kontak, rasa mual, sakit kepala, merusak ginjal dan hati.

5.      Paraben

Anda sering menggunakan deodorant? Nah, zat paraben biasa digunakan dalam kosmetik, deodorant dan beberapa produk perawatan kulit lainnya untuk mencegah berkembangnya bakteri. Penggunaanya dalam jangka waktu panjang bisa menyebabkan iritasi dan alergi pada kulit, bahkan jika kandungan paraben tinggi, dapat menyebabkan kanker payudara.

6.      Phthalates

Bahan berbahaya bagi organ reproduksi ini dipakai dalam produk kosmetik untuk menyamarkan noda. Penggunaannya juga bisa meningkatkan potensi kanker.

7.      Triclosan

Bahan ini sulit sekali terurai dan diduga dapat meningkatkan reaksi alergi serta mengacaukan fungsi hormon. Hingga kini, triclosan masih sering dipakai dan bisa membuat tubuh kebal akan obat-obatan antibiotik.

8.      Petroleum

Bahan yang sering digunakan untuk melembabkan ini, bisa menyebabkan penyumbatan pori-pori dan paru-paru.

9.      Isopropyl Alcohol

Bahan ini bisa menyebabkan iritasi kulit dan merusak lapisan asam kulit sehingga bakteri dapat tumbuh dengan subur.

10.  Merkuri atau Air Raksa

Air raksa adalah bahan yang biasanya digunakan untuk mengawetkan hewan yang sudah mati seperti harimau, anjing, macan tutul, dan sebagainya. Merkuri atau air raksa ini tergolong ke dalam kategori logam berat yang berbahaya yang dalam konsentrasi yang kecil sekalipun sudah merupakan zat racun.

Penggunaan merkuri dalam kosmetik akan menyebabkan berbagai macam masalah seperti perubahan pada warna kulit,  iritasi kulit, alergi, kerusakan pada otak, ginjal, dan juga gangguan perkembangan janin bahkan paparan jangka pendek dalam dosis yang tinggi dan bisa menyebabkan muntah-muntah. Selain itu, yang lebih berbahaya ialah bahwa merkuri atau air raksa ini merupakan zat karsinogenik atau zat yang bisa menyebabkan kanker pada manusia.

11.  Synthetic Fragrance

Wewangian sintetis yang digunakan dalam produk kosmetik mengandung sebanyak 200 zat kimia berbahaya. Bila Anda menggunakan produk wangi maka semua bahan kimia berbahaya bisa diserap dalam aliran darah melalui kulit. Bahan kimia ini dapat mengakibatkan efek samping seperti sakit kepala, pusing, ruam, hiper-pigmentasi, kekerasan batuk, muntah dan iritasi kulit.

12.  Synthetic Colors

Bahan sintetis warna diyakini sebagai penyebab kanker. Jika dalam produk kosmetik tertera kandungan ini, jangan sekali-kali menggunakannya.

13.  Stearalkonuim Chloride

Stearalkonium klorida dikembangkan oleh industri kain sebagai pelembut kain. Namun, zat kimia ini juga terkandung dalam kondisioner dan krim rambut. Bahan ini dapat menyebabkan reaksi alergi.

14.  PVP/VA Copolymer

Zat kimia yang hasil keluaran minyak bumi ini digunakan pada produk hairspray dan kosmetik lainnya. Dianggap dapat beracun, karena partikel-partikelnya dapat menyebabkan masuknya benda asing pada paru-paru orang sensitif.

15.  Midazolidinyl Urea and Dizoldinyil Urea

Ini adalah kandungan yang paling umum digunakan untuk bahan pengawet setelah parabens. Bahan utamanya adalah formaldehida, yang dikenal untuk mengawetkan mayat, dan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Dapat menyebabkan dermatitis (radang kulit), luka bakar, inflamasi, dan pengeluaran air mata.

Sebenarnya masih banyak lagi zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan yang terkandung dalam berbagai produk kosmetika, dan upaya yang terbaik adalah Pastikan kosmetik yang digunakan aman dan sudah terdaftar oleh BPOM atau badan kesehatan dunia yang dapat dipertanggungjawabkan. Jangan mudah tergiur dengan produk kosmetika yang beredar di pasaran sekalipun harganya mahal.

*Shofia

(esqiel/muslimahzone.com)

Mengompres Wajah dengan Es Batu

MuslimahZone.com – Es batu yang biasanya kita jumpai sebagai tambahan jus ternyata memiliki khasiat yakni membuat kulit wajah menjadi bersinar.  Selain itu, karena melembabkan secara alami, ia dapat mengurangi tampilan kulit berminyak sebelum bermake-up. Tak heran apabila beberapa MUA (Make Up Artist) memberikan kompres es batu pada beberapa klien yang hendak melakukan make-up wedding. Tujuannya agar kulit lebih terlihat segar, meminimalisir minyak di wajah, 
membantu memperlancar peredaran darah, mencegah penuaan dini, mengurangi mata bengkak. Selain itu, make-up dengan es batu juga membantu meringankan kulit yang terbakar akibat paparan sinar matahari, kerutan di wajah, sebagai facial terapy yang berguna mengecilkan pori dalam beberapa saat, juga membantu mengurangi kemerahan dan peradangan pada jerawat. Jika segera diaplikasikan dengan obat jerawat yang dapat membantu mengeringkan jerawat dan mempercepat proses penyembuhannya.

Namun mengompres wajah dengan es batu secara langsung di permukaan kulit bukanlah cara yang tepat dan aman. Hal ini dapat menyebabkan kapiler di bawah kulit menjadi rusak. Sehingga cara yang terbaik adalah membungkus es batu dengan kain tipis, kemudian baru mengaplikasikannya pada seluruh wajah. Setelah mengompres dengan es batu, biarkan 5-10 detik wajah agar airnya mengering, sebelum di aplikasikan serum atau mulai memake-up wajah.

dimanakah aku berada?

“aku khawatir terhadap suatu masa yg roda kehidupannya dapat menggilas keimanan, keimanan hanya tinggal pemikiran, yg tak berbekas dalam perbuatan….

banyak org baik tapi tak berakal, ada org berakal tpi tak beriman…

ada lidah fasih tapi berhati lalai, ada yg khusyuk tpi sibuk dalam kesendirian…

ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis, ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi…

ada yg banyak tertawa hingga hatinya berkarat, dan ada yg menangis karena kufur nikmat…

ada yg murah senyum tapi hatinya mengumpat, ada yg berhati tulus tapi wajahnya cemberut…

ada yg berlisan bijak tapi tak memberi teladan, dan ada pelacur yg tampil jadi figur…

ada org yg punya ilmu tapi tak faham, ada yg faham tapi tak menjalankan…

ada yg pintar tapi membodohi, ada yg bodoh tak tahu diri…

ada org beragama tapi tak berakhlak, ada yg berakhlak tapi tak bertuhan…

lalu diantara semua itu dimanakah aku berada…???”

(Ali bin Abi Thalib R.A)